Milenial Indonesia Tekankan Pemilu 2024 Ada di Tangan Milenial

Share disini :

JAKARTA – Salah satu elemen penting dalam sistem demokrasi adalah Pemilihan Umum. Masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo masih dua tahun lagi, tetapi perbincangan mengenai Pemilu 2024 terus berkembang di masyarakat. Merespon hal ini, Sureza Sulaiman selaku Direktur Milenial Indonesia mengatakan generasi milenial adalah pemilik saham terbesar pada Pemilu 2024.

“Generasi milenial adalah pemilik saham terbesar pada Pemilu 2024. Maksudnya, pada tahun 2024 nanti jumlah pemilih pemula dan partisipasi politik dari generasi ini akan naik, tidak seperti pemilu-pemilu sebelumnya,” kata pemuda yang sering disapa Reza, Senin (14/3/2022).

Reza menambahkan, kepada calon kandidat yang akan mengikuti Pemilu 2024 agar terus melibatkan generasi milenial.

‘’Kepentingan generasi milenial harus menjadi fokus utama isu pembangunan di Indonesia, sebab generasi milenial yang akan mendapatkan dampak dari kebijakan-kebijakan yang dihasilkan pemerintahan selanjutnya,’’ tambah Reza.

Menurutnya, generasi milenial lebih peka pada kebutuhan masa depan terutama perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Oleh karena itu, Reza juga mendorong agar generasi milenial ikut terlibat aktif dalam politik.

“Saya mengajak kepada generasi milenial harus berpartisipasi pro-aktif pada isu Pemilu 2024. Regenerasi kepemimpinan sudah saatnya diserahkan kepada kaum muda milenial,” pungkas Reza.

Sementara, Sekretaris Jenderal Milenial Indonesia Afian Dwi Prasetiyo menilai pemerintah dan partai belum maksimal dalam memberikan pendidikan politik kepada generasi milenial.

“Berdasarkan penelitian IDN Research Institute. Dalam laporan bertajuk ‘Indonesian Millenial report 2019’, hanya 23,4 persen yang suka mengikuti berita politik. Artinya, masih banyak dari generasi milenial yang menganggap politik adalah urusan generasi tua,” kata Afian, Senin (14/3/2021).

Padahal, menurut Afian, generasi milenial memiliki pengaruh besar dalam memperluas informasi politik kepada masyarakat melalui media sosial. Hanya saja, generasi milenial bisa terbawa arus dalam membaca dan mengolah informasi apabila tidak diberikan pendidikan politik.

Selain itu, Afian memandang, tanpa generasi milenial dalam politik, maka akan sulit mewujudkan politik berkeadaban di Indonesia.

“Melihat politik pecah belah yang sejak Pemilu 2019 hingga sekarang terjadi, tanpa generasi milenial terlibat dalam politik, sulit saya kira untuk mewujudkan politik berkeadaban di Indonesia. Semoga menuju Pemilu 2024, generasi milenial mendapat perhatian tidak lagi sebagai objek politik semata, tetapi dapat menjadi kekuatan politik di Indonesia,” pungkasnya. (*)

Share disini :
error: Content is protected !!