oleh

Indonesia Selalu Impor, Riswan Mura :Kerja Jangan Banyak Debat

-Berita, Daerah-133 views

DELIKNEWS.ID, LAMPUNG – Riswan Mura CEO CV Tulang Bawang Bangkit  mengatakan Strategi ketahanan pangan Indonesia benar-benar sedang diuji dimasa Covid-19 ini. Indonesia harus mengakui tentang keterbatasan sumber pangan, yang pada akhirnya Indonesia harus mengimpor bahan pangan utamanya beras.

” Vietnam dan Thailand, dua negara tetangga kita yang ternyata lebih surplus pangan dibanding kita. Mereka bisa eksport, kita belum”. Ujar Riswan Mura pada Minggu ( 27/06/21)

Riswan menjelaskan selain negara Vietnam dan Thailand pengimport beras. Negara Pakistan, India dan Myanmar juga memiliki stock pangan yang baik sehingga mereka bisa menjual ke negara lain.

Baca Juga :   PERINGATI HUT TNI KE 76 TAHUN 2021, DANLANTAMAL VII IKUTI UPACARA VIRTUAL BERSAMA TNI-POLRI

Lalu bagaimana dengan Indonesia.? Tanya Riswan seorang tokoh muda asal Kabupaten Tulang Bawang Lampung

“Kita harus jujur mengakui, strategi ketahanan pangan kita perlu terus diperbaiki. Lima tahun terakhir ini kita tidak hanya import beras, tetapi juga import gula, daging, buah buahan, bahkan pisang dari Philiphina”. Jelasnya

Kata riswan, Ketik saja di mesin pencari google: “import indonesia”. Akan muncul fakta, data dan jejak digital import Indonesia .

Baca Juga :   Imparsial Minta Hentikan Kriminalisasi Terhadap Petani Kopsa-M Kampar, Riau

” Kemarin saya menulis, tentang pentingnya tata kelola pertanian kita. Harus ada perbaikan mendasar. Harus ada garansi bahwa petani dan produk pertanian dilindungi negara. Harus ada pembelaan kepada petani. Jika sudah ada program, maka perlu dikawal”. Imbuhnya

Perlindungan kepada produk pertanian harus dilakukan dengan tenaga ekstra. Contoh kasus: buah naga, jeruk, tomat yang melimpah, belum diimbangi dengan fasilitas pengolahan dan distribusi yang memadai.

Baca Juga :   Diskominfo Dilurug Aktivis Komad dan Araop Pamekasan

Contoh lagi Lampung yg surplus pisang, belum diimbangi dengan pendirian pabrik pabrik pengolahan produk pisang. Misalnya pendirian pabrik tepung pisang. Padahal permintaan tepung pisang untuk konsumsi dunia sangat tinggi.

” Ini masalah yang harus diurai solusinya, dirikan industri pengolahan. Perbaiki rantai distribusi dan lakukan eksport. Kita bisa. Semboyan kita kerja, kerja, kerja. Bukan debat, debat, debat”. Pungkas Riswan penggerak warung pro rakyat.

Sumber : FERI

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed