Dokter Terawan Hanya Tunduk Pada Konsil Kedokteran Indonesia, Bukan IDI

Share disini :

DELIKNEWS.ID | JAKARTAPraktisi hukum di Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Tobias Ranggie SH (Panglima Jambul), mengatakan, Prof Dr dr Letnan Jenderal (Purn) Terawan Agus Putranto, hanya tunduk kepada Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), bukan organisasi kemasyarakatan selevel Ikatan Dokter Indonesia (IDI). 

“Kalau Dokter Terawan Agus Putranto diberhentikan keanggotaan dari IDI dan dicabut izin praktik dikeluarkan IDI, biarkan saja. Tidak ada pengaruhnya. KKI itu di bawah langsung Presiden. Biarkan IDI dengan langkah konyolnya sendiri,” kata Panglima Jambul, Minggu, 27 Maret 2022.

Panglima Jambul menanggapi, Terawan Agus Putranto, mantan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2019 – 2020, diberhentikan IDI, berdasarkan Muktamar XXXI Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia di Kota Banda Aceh, Provinsi Nangre Aceh Darussalam, 22 – 25 Maret 2022.

Salah satu dinilai pelanggaran dilakukan Terawan Agus Putranto, melakukan penelitian Vaksin Dendritik Nusantara yang difasilitas Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta, tanpa persetujuan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Vaksin Dendritik Nusantara menjadi salah satu alternative dalam penyembuhan penderita Corona Virus Disease-19 (Covid-19) di Indonesia, dan pasien sejumlah tokoh besar, para menteri dan masyarakat luas di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta.

“KKI amanat dari Undang-undang Praktik Kedokteran Nomor 29 Tahun 2004, tentang: Praktik Kedokteran. Kompetensi seorang dokter, apalagi selevel Dokter Terawan, diatur KKI, bukan IDI,” ujar Panglima Jambul.

Konsil Kedokteran Indonesia atau KKI merupakan suatu badan otonom, mandiri, non struktural dan bersifat independen, yang bertanggung jawab kepada Presiden Republik Indonesia.

KKI didirikan pada tanggal 29 April 2005 di Jakarta yang anggotanya terdiri dari 17 (tujuh belas) orang, merupakan perwakilan dari: Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia : 2 (dua) orang, Kolegium Kedokteran Indonesia: 1 (satu) orang.

Kemudian Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia: 2 (dua) orang, Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Gigi Indonesia: 2 (dua) orang, Persatuan Dokter Gigi Indonesia: 2 (dua) orang, Kolegium Kedokteran Gigi Indonesia: 1 (satu) orang, Tokoh Masyarakat: 3 (tiga) orang, Departemen Kesehatan: 2 (dua) orang, dan Departemen Pendidikan Nasional: 2 (dua) orang.

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004

Dikatakan Panglima Jambul, KKI mempunyai fungsi, dan tugas yang diamanatkan dalam pasal 7 Undang-undang Praktik Kedokteran Nomor 29 Tahun 2004 (UUPK) yaitu melakukan registrasi dokter dan dokter gigi, mengesahkan standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi dan melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan praktik kedokteran yang dilaksanakan bersama lembaga terkait dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan medis.

Dalam menjalankan fungsi dan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 UUPK di atas, KKI mempunyai wewenang sesuai pasal 8 UUPK yaitu menyetujui dan menolak permohonan registrasi dokter dan dokter gigi.

“Menerbitkan dan mencabut surat tanda registrasi. Mengesahkan standar kompetensi. Melakukan pengujian terhadap persyaratan registrasi dokter dan dokter gigi. Mengesahkan penerapan cabang ilmu kedokteran dan kedokteran gigi.” ujarnya.

“Melakukan pembinaan bersama terhadap dokter dan dokter gigi mengenai pelaksanaan etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi. Melakukan pencatatan terhadap dokter dan dokter gigi yang dikenakan sanksi oleh organisasi profesi atau perangkatnya karena melanggar ketentuan etika profesi,” kata Panglima Jambul.

Menuju kehancuran IDI

Pegiat media sosial, Ninoy Karundeng, menilai, IDI memecat Dr Terawan adalah tanda mula kehancuran IDI. IDI bertindak persis seperti kelakuan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tidak berbeda. IDI sering menyerang Pemerintah.

Memang sejatinya IDI adalah LSM, sama seperti MUI. Ada lembaga yang lebih penting dibanding IDI: Indonesia Medical Council alias Konsil Kedokteran Indonesia yang independen dan langsung bertanggung jawab ke Presiden.

Yang lebih mengerikan adalah IDI Sukoharjo membela teroris. IDI Pusat diam. Artinya sejalan. IDI membuat hoaks bahwa teroris dokter Sunardi lemah. pakai tongkat segala. Faktanya Closed Circuit Television (CCTV) menunjukkan dia bisa jalan normal. Bahkan nyetir pun bisa ngebut. IDI juga menyebut Sunardi sebagai orang baik. Teroris adalah penjahat, sampah peradaban. Detasemen Khusus Antiteror Polisi Republik Indonesia sudah benar; membunuh teroris Sunardi.

IDI meng-glorifikasi dokter teroris Sunardi dengan pernyataan ngawur Arif Budi Satria, bahwa Sunardi berjiwa sosial tinggi. Teroris Sunardi menipu publik untuk menutupi kegiatannya. IDI pun belasungkawa pada teroris Sunardi. Ngawur dan tendensius. Glorifikasi pada teroris.

“IDI memecat Terawan menunjukkan kebencian akut. Pamer kekuasaan, merasa bahwa titah IDI adalah fatwa. Dan, IDI membahayakan masyarakat. IDI memiliki kode etik, ternyata IDI tanpa etika ketika memecat dokter Terawan,” kata Ninoy Karundeng di akun facebook, Minggu, 27 Maret 2022.

Kebencian apa yang tertanam pada IDI yang begitu membenci dokter Terawan? Sebelum Terawan jadi Menteri Kesehatan, tersebar surat IDI kepada Joko Widodo, isinya keberatan Terawan jika dia jadi menteri.

Joko Widodo tidak tunduk kepada tekanan IDI, maka IDI memberikan perlawanan. Gantian IDI tidak mengakui Konsil Kedokteran Indonesia yang diangkat Joko Widodo. Untuk membalas dendam IDI menghantam Terawan yang mengusulkan para anggota KKI.

Terawan simbol Joko Widodo

Carut-marut IDI makin dalam, tak karuan. Terawan sebagai simbol Joko Widodo dihantam; dipecat permanen. Dipecatnya Terawan justru akan membuat cibiran makin dalam ke IDI. Kelakuan IDI secara principal mirip MUI. Rasa paling benar.

IDI menjadi mesin kekuatan yang menentukan hitam putih-nya kesehatan, obat, peredaran obat, dan sejak tahun 2014 masuk ke ranah politik. Dukung-mendukung capres membuat organisasi IDI, semakin mirip MUI. Makin kehilangan wibawa karena unsur bisnis besar lebih kuat daripada kemanusiaan.

“Contohnya, IDI Sukoharjo harusnya mengecam dokter Sunardi. Bukan berbelasungkawa karena teroris Sunardi tewas. Karena seperti dituturkan Arif Budi Satria sendiri, profesi dokter mengedepankan kemanusiaan,” ujar Ninoy Karundeng.

“Nah, justru kegilaan teroris Sunardi menggunakan profesi dokter untuk menutupi kejahatannya. Pura-pura baik, manusiawi, suka menolong, yang ketika ketahuan belangnya sebagai teroris, ketika dikejar aparat sebagai anggota organisasi teroris Jamaah Islamiyah justru melawan dan mengancam nyawa petugas,” tambah Ninoy Karundeng.

Kelakuan Sunardi persis seperti 6 teroris Front Pembela Islam (FPI) yang ditembak mati karena melawan petugas di peristiwa kilometer 50 Tol Cikampek, Senin dinihari, 7 Desember 2022.

Glorifikasi dan belasungkawa terhadap teroris adalah kesalahan. IDI harusnya memberikan sanksi kepada Arif Budi Satria yang berduka karena teroris Sunardi didor oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror Polisi Republik Indonesia.

IDI seperti MUI, kehilangan marwahnya. MUI pun kena batunya karena beberapa pentolannya adalah teroris.

Di IDI pun anggotanya teroris: Sunardi namanya. Anggota Komisi Fatwa MUI yang mengriminalisasi Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok juga teroris. Ketika Sunardi ditembak mati Detasemen Khusus 88 Antiteror Polisi Republik Indonesia, MUI lewat Anwar Abbas mengecam Detasemen Khusus 88 Antiteror Polisi Republik Indonesia.

MUI dibangun dengan mencaci-maki pemerintah, berseberangan dengan pemerintah, karena memelihara kepentingan duit besar 30 tahun: label sertifikasi halal MUI. Wujud negara dalam negara.

Negara kalah karena kedok agama yang dipakai MUI. Kepedean sebagai penentu benar salah membuat MUI jumawa. Keblinger yang menjadi bahan tertawaan umat yang waras. Karena MUI melabeli sertifikasi kulkas ada yang halal. Hahaha. Siapa yang makan kulkas?

Sebagai organisasi kemasyarakatan atau lembaga swadaya masyarakat, sepak terjang IDI tidak ada yang berani mengontrol. Sama dengan ormas MUI. Dan, tidak tahu penyebabnya, sejak lama IDI memusuhi Terawan.

“Terlepas dari kontroversinya dengan dokter Terawan, dunia kedokteran bukanlah dunia berhenti. Ilmu kedokteran terus berkembang. IDI malah menjadi jumud dan menempatkan diri persis seperti MUI. Dan, inilah awal kehancuran IDI sebagai organisasi kemasyarakatan atau lembaga swadaya masyarakat yang memiliki kemiripan perilaku,” Tutupnya. (Red)

Share disini :
error: Content is protected !!