ANGGOTA MAJELIS SYARI’AH PPP ACEH UNSUR PRSANTREN, MENGUNDURKAN DIRI

Share disini :

Aceh – Situasi dan kondisi pengunduran diri dari jabatan PPP Aceh kembali terjadi. Saat ini, anggota Majelis Syari’ah PPP Aceh dari unsur pimpinan pesantren menyatakan mengundurkan diri. Mereka tidak bersedia dicantumkan namanya dalam kepengursan PPP Aceh. Beberapa alasan pengunduran diri yang bervariasi antara lain karena kesibukan mengurus dayah dan pendidikan di dayah. Bahkan, ada yang beralasan tidak ingin terlibat dalam suatu partai politik karena kepentingan image sebagai ulama dan dampak sosiologi kemasyarakatan.

Beberapa pimpinan dayah yang mengundurkan diri tersebut antara lain, Tgk. H. Anwar Usman Kuta Krueng. Sebagai pimpinan dayah yang relatif besar di Aceh, beliau tidak bersedia duduk sebagai pengurus di Majelis Syariah disebabkan kesibukan dan tanggung jawab untuk mengurus pendidikan di beberapa dayah. Pernyataan tersebut sangat jelas dan tegas sesuai dengan surat yang diterima redaksi.

Pimpinan dayah lainnya yang tidak bersedia menjadi pengurus adalah Tgk. H. Muniruddin M. Diah. Pimpinan dayah Babul Ilmi Kiran Pidie Jaya ini, beralasan bahwa disamping kesibukan mengurus dayah, beliau juga tidak ingin terlibat dalam suatu partai politik. Sebab image yang muncul ditengah masyarakat tidak baik bila ulama terlibat langsung dalam politik praktis.

Tgk. Abdul Azis atau Waled Azis, merupakan salah seorang pimpinan dayah di Kota Fajar kabupaten Aceh Selatan. Selain itu, beliau juga salah seorang kader NU senior disana. Beliau menyatakan tidak bersedia atas pencantuman nama beliau sebagai salah seorang anggota Majelis Syari’ah PPP Aceh.

Sedangkan anggota Majelis Syari’ah lainnya yang mengundurkan diri adalah Ustad Bambang Chairuddin. Ustad ini adalah salah seorang Pimpinan Pesantren di Kota Subulussalam Prov. Aceh. Ketidaksediaan beliau menjadi pengurus PPP Aceh dinyatakan dalam satu surat pernyataan yang disampaikan kepada Ketum DPP PPP di Jakarta dengan tembusan disampaikan kepada DPW PPP Aceh. Alasan pengunduran diri tersebut, tidak jauh berbeda dengan pimpinan pesantren lainnya.

Bila dicermati secara seksama, pengunduran diri oleh banyak personil dari jabatan dalam tubuh PPP Aceh, tentunya menyisakan banyak tanda tanya. Ada apakah gerangan yang menjadi latar belakang pengunduran diri tersebut. Sepintas memang pengunduran diri tersebut merupakan hal yang biasa. Pengunduran diri dan kekosongan jabatan, akan dilakukan pengisian atau reshuffle pengurus. Namun secara psikologis politis, pengunduran diri tersebut tidak boleh dianggap remeh dan biasa saja. Yang pasti, pengunduran diri ini akan memberikan dampak politik yang sangat serius bagi PPP di masa mendatang.

Pengunduran diri pimpinan dayah/pesantren, dapat diindikasikan sebagai mandeknya dukungan pesantren dan ulama terhadap PPP di Aceh. Soalnya, pimpinan pesantren tersebut memiliki kapasitas dan integritas yang memiliki pengaruh besar dikalangan pimpinan dayah/pesantren dan ulama di Aceh. Keberadaan abiya Anwar Usman dan dayah Kuta Krueng telah melahirkan ribuan alumni yang saat ini juga telah mendirikan dayah masing-masing. Demikian pula dayah-dayah lainnya yang dipimpin oleh para personil ulama yang mengundurkan diri dari jabatan di PPP Aceh.

Hasil pemilu 2019 yang lalu, telah memperlihatkan grafik yang menanjak bagi bangkitnya kembali PPP sebagai partai lama di Aceh. Sebagai partai berbasis politik Islam, PPP pernah besar dan menguasai lapangan politik di Aceh. Namun, dengan dinamika yang ada akankah PPP bisa kembali bangkit atau malah sebaliknya akan menukik tajam menuju jurang kehancuran. Bila ini terjadi, maka pengurus DPP PPP dan pengurus DPW PPP Aceh saat ini, adalah pihak yang patut disalahkan karena telah menetapkan kebijakan serta melakukan kesalahan sangat fatal terhadap PPP di Aceh. Wallahu a’lam bisshawab. (H.s)

 

Share disini :
error: Content is protected !!